Analisis Pemanfaatan Hasil Asesmen Diagnostik dalam Perencanaan Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka
Keywords:
Asesmen Diagnostik, Kurikulum Merdeka, Pembelajaran Berdiferensiasi, Sekolah Dasar, Teacher AgencyAbstract
Kurikulum Merdeka menempatkan asesmen diagnostik sebagai titik tolak perencanaan pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan peserta didik, bukan sekadar alat pengukur hasil belajar di akhir proses. Namun demikian, pemanfaatan hasil asesmen tersebut dalam praktik pembelajaran sehari-hari masih menyisakan kesenjangan antara kebijakan dan implementasi di tingkat kelas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan asesmen diagnostik di kelas, proses transformasinya ke dalam rancangan pembelajaran berdiferensiasi, serta kendala institusional dan strategi adaptif guru dalam mengatasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles and Huberman dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan asesmen diagnostik di kelas rendah dan kelas tinggi memiliki pola dan kedalaman instrumen yang berbeda. Transformasi hasil asesmen ke pembelajaran berdiferensiasi berlangsung secara parsial dan sangat bergantung pada inisiatif individual guru. Kendalanya berupa keterbatasan waktu, beban administratif, dan minimnya pendampingan teknis diatasi guru melalui strategi adaptif yang mencerminkan teacher agency dalam ekologi sekolah. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas profesional guru sekaligus dukungan struktural sekolah agar asesmen diagnostik benar-benar berfungsi sebagai basis perencanaan pembelajaran berdiferensiasi, bukan sekadar formalitas administratif.
